Setelah terbunuh oleh Ken Arok, kisah roh Mpu Gandring tidak berakhir. Arwahnya yang penuh dendam bersemayam di dalam keris yang belum sempurna. Ia tidak hanya mengutuk, tetapi juga berjanji akan menghantui setiap keturunan yang memegang keris itu. Suara dari bilah keris itu adalah bisikan kematian yang tak pernah berhenti.
Raja-raja yang memegang keris itu tidak pernah merasa damai. Setiap malam, mereka mendengar kisah roh yang meratap, menceritakan pengkhianatan dan kematian sang empu. Bisikan itu memicu kecurigaan dan ketakutan. Mereka mulai melihat bayangan musuh di mana-mana, bahkan di wajah orang terdekat.
Anusapati, putra tiri Ken Arok, adalah salah satu yang paling menderita. Setelah membunuh ayahnya dengan keris itu, ia terus dihantui. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Ia merasa seperti ada kehadiran lain di singgasananya. Kisah roh Mpu Gandring telah meracuni pikirannya, mengubahnya menjadi sosok yang paranoid dan penuh rasa bersalah.
Tidak hanya Anusapati, keturunan berikutnya juga mengalami hal yang sama. Keris itu berpindah tangan dari satu raja ke raja lain, dan setiap pemegangnya selalu berakhir tragis. Kekuasaan yang mereka impikan, nyatanya adalah neraka yang diciptakan oleh dendam dari kisah roh Mpu Gandring.
Para abdi dalem dan masyarakat istana mulai percaya. Mereka menganggap bahwa keris itu terkutuk. Tidak ada yang berani menyentuhnya. Keris itu menjadi simbol dari kehancuran. Sebuah benda sakti yang seharusnya membawa kemenangan, justru menjadi penyebab dari malapetaka.
Meskipun keris itu akhirnya hilang, kutukan itu tetap hidup. Cerita tentang Mpu Gandring menjadi peringatan bagi setiap raja. Mereka diingatkan, bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan cara yang keji tidak akan pernah membawa kebahagiaan.
Kisah ini mengajarkan bahwa dendam, meskipun tidak memiliki raga, memiliki kekuatan yang tak terbatas. Ia dapat menghancurkan dari dalam, memakan hati dan pikiran, hingga akhirnya menghancurkan sebuah kerajaan.
Suara dari bilah keris itu mungkin telah meredup. Namun, kisah roh Mpu Gandring tetap bergema, menjadi pengingat abadi bahwa pengkhianatan akan selalu menuntut balasan
