Kabar duka kembali menyelimuti dunia konservasi satwa liar. Seekor gajah betina ditemukan mati dengan luka tembak di kawasan hutan produksi Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Penemuan mamalia dilindungi ini terjadi pada Minggu, 22 Oktober 2023 dan langsung menjadi perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu.
Tim BKSDA Bengkulu yang menerima laporan segera melakukan nekropsi (bedah bangkai) terhadap gajah betina malang tersebut. Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan adanya lubang peluru di bagian tubuh gajah, yang diduga menjadi penyebab utama kematiannya. Temuan ini mengindikasikan adanya tindakan perburuan ilegal di kawasan hutan produksi tersebut.
Kepala BKSDA Bengkulu, Riki Junaidi, membenarkan adanya kejadian tragis ini. “Kita sangat prihatin dan mengecam keras tindakan pelaku yang tega menembak mati gajah betina ini,” ujarnya seperti dikutip dari detikSumbagsel. “Saat ini, tim kami sedang berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mengungkap pelaku perburuan.”
Gajah Sumatera ( Elephas maximus sumatranus ) merupakan satwa liar yang dilindungi undang-undang dan statusnya kini semakin terancam punah. Kematian gajah betina ini tidak hanya menghilangkan satu individu, tetapi juga berdampak pada populasi gajah secara keseluruhan, mengingat peran penting betina dalam reproduksi.
Pihak BKSDA Bengkulu menduga kuat bahwa motif perburuan ini terkait dengan perampasan gading gajah, meskipun belum ada keterangan resmi mengenai hilangnya gading korban. Namun, adanya luka tembak jelas mengarah pada tindakan kriminal yang disengaja.
Kawasan hutan produksi Air Rami yang menjadi lokasi penemuan gajah mati ini akan menjadi fokus utama penyelidikan. BKSDA Bengkulu akan meningkatkan patroli dan pengawasan di wilayah tersebut serta bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk mencegah terjadinya kasus serupa di kemudian hari. Masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dalam melaporkan segala aktivitas mencurigakan terkait perburuan satwa liar.
Kejadian ini sekali lagi menjadi alarm bagi upaya konservasi gajah Sumatera. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi lingkungan, dan masyarakat untuk melindungi satwa kebanggaan Indonesia ini dari ancaman kepunahan akibat perburuan ilegal dan hilangnya habitat.
