Makna Simbolis yang terkandung dalam ukiran manusia bertumpuk pada patung Bisj merupakan elemen spiritual terpenting dalam kebudayaan masyarakat adat Suku Asmat di Kabupaten Asmat, Papua. Patung Bisj berbentuk tiang kayu jangkung yang dipahat dari sebatang pohon bakau utuh, menampilkan susunan figur-figur manusia bertumpuk secara vertikal. Setiap figur manusia yang terukir melambangkan roh para leluhur atau kerabat yang telah meninggal dunia, di mana tiang ini didirikan sebagai sarana penghormatan sekaligus media penghubung antara dunia manusia hidup dan alam roh. Keagungan karya seni pahat ini diakui dunia internasional sebagai mahakarya kriya ukir primitif berestetika sangat tinggi.
Proses pembuatan patung Bisj diawali dengan ritual adat pemotongan pohon bakau atau kayu besi pilihan di dalam hutan rawa Papua secara gotong royong. Pohon bakau dipilih karena memiliki struktur batang yang lurus, tinggi, serta daya tahan serat kayu yang sangat kuat terhadap kelembapan udara dan serangan serangga. Seniman ukir Asmat atau pengukir memahat kayu mentah tersebut hanya menggunakan pahat batu, tulang hewan, atau pisau besi sederhana. Seluruh proses pembuatan patung dikerjakan di dalam rumah adat Jew sambil diiringi nyanyian ritual suci guna mengundang masuknya roh para leluhur ke dalam batang kayu yang sedang dipahat tersebut.
Susunan ukiran figur manusia bertumpuk dibuat dari bagian bawah hingga pucuk tiang patung secara berurutan dengan ketelitian luar biasa. Makna Simbolis figur yang diletakkan pada posisi paling atas merepresentasikan sosok tokoh adat atau leluhur yang paling dihormati dalam suku tersebut. Ukiran raut wajah dengan mata tajam, ornamen tindik hidung, serta lekukan tubuh manusia yang kurus dipahat secara ekspresif tanpa bantuan cetakan matematis. Pada bagian pucuk tiang patung, terdapat ukiran berbentuk sayap atau layar berukir rumit yang melambangkan kendaraan roh untuk melakukan perjalanan suci menuju alam arwah (Safan) yang tenang di seberang lautan.
Setelah proses pemahatan selesai, seluruh permukaan patung Bisj dilumuri pewarna alami yang terbuat dari campuran kapur kerang untuk warna putih, arang kayu untuk warna hitam, dan tanah merah lokal. Kombinasi warna kontras ini semakin mempertegas dimensi visual dan aura keanggunan spiritual yang dipancarkan oleh patung tiang kayu tersebut. Patung Bisj yang telah selesai diukir kemudian didirikan di depan rumah adat Jew dalam perayaan upacara adat besar yang diisi dengan tarian perang dan pemukulan tifa secara kolosal oleh seluruh warga kampung adat Asmat.
Melalui keindahan bentuk dan kedalaman filosofi yang diusungnya, patung Bisj menjadi bukti keunggulan kebudayaan bahari dan seni pahat kelas dunia milik masyarakat Papua. Dengan memahami Makna Simbolis di balik setiap ukiran kayu bakau ini, kita dapat lebih menghargai kekayaan kearifan lokal serta pandangan hidup suku-suku tradisional Nusantara. Keberadaan karya seni ukir Asmat ini terus dijaga kelestariannya melalui penyelenggaraan festival budaya tahunan yang menarik perhatian para peneliti budaya dan wisatawan global. Pelestarian warisan budaya ini sangat penting demi menjaga keberagaman identitas kebudayaan bangsa Indonesia.
