Tanah Papua selalu punya cara untuk memukau dunia, dan salah satu magnet utamanya adalah kemegahan seni dari suku yang mendiami rawa-rawa pesisir selatan, yaitu Suku Asmat. Setiap tahunnya, terdapat satu agenda yang menjadi kiblat bagi para kolektor seni dan antropolog dunia, yaitu Festival Budaya Suku Asmat. Acara ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan sebuah pesta rakyat yang merayakan napas kehidupan, penghormatan kepada leluhur, dan kelestarian alam Papua yang sangat kaya. Jika Anda merencanakan perjalanan ke Agats, pastikan jadwal Anda bertepatan dengan perhelatan akbar yang biasanya diadakan pada bulan Oktober ini.
Daya tarik utama yang selalu ditunggu-tunggu dalam Festival Budaya Suku Asmat adalah pembekuan memahat secara langsung oleh ratusan pemahat atau wow-ipits . Uniknya, para pemahat ini tidak menggunakan sketsa atau pola sebelumnya; mereka memahat kayu bakau atau kayu besi secara spontan berdasarkan bisikan imajinasi dan hubungan spiritual dengan nenek moyang. Hasilnya adalah ukiran-ukiran yang sangat detail, mulai dari patung manusia yang bertumpuk hingga pola-pola rumit yang menceritakan mitologi suku. Melihat tangan-tangan terampil ini bekerja di tengah riuh rendah suara tabuhan tifa adalah pengalaman budaya yang sangat mendalam.
Selain seni ukir, Festival Budaya Suku Asmat juga dimeriahkan dengan lomba pacu perahu tradisional di atas sungai-sungai besar yang membelah hutan bakau. Puluhan perahu panjang yang diukir indah dikayuh oleh puluhan pria dengan posisi berdiri, menciptakan pemandangan yang sangat ikonik dan heroik. Teriakan semangat para pendayung yang selaras dengan irama dayung yang menghujam air memberikan energi yang luar biasa bagi siapa pun yang menonton di tepi dermaga kayu Agats. Inilah momen di mana kekuatan fisik dan kebersamaan masyarakat Asmat benar-benar ditunjukkan kepada dunia luar.
Puncak dari Festival Budaya Suku Asmat biasanya ditutup dengan lelang karya seni ukir yang hasilnya akan langsung diberikan kepada para pemahat sebagai bentuk dukungan ekonomi. Wisatawan dan kolektor seringkali berebut untuk mendapatkan karya asli yang memiliki nilai artistik sangat tinggi ini. Selain itu, festival ini juga menjadi ajang pertunjukan tarian adat dan nyanyian kuno yang jarang sekali ditampilkan di luar momen sakral. Suasana kota Agats yang dijuluki “Kota di Atas Papan” pun berubah menjadi sangat meriah, penuh dengan warna-warni kucing alami dari tanah merah dan arang yang menghiasi wajah para peserta festival.
