Sebuah ironi mencolok dan menyayat hati mewarnai kondisi pertanian di Papua Selatan. Di tengah keluhan pilu para petani di berbagai pelosok yang kesulitan luar biasa mendapatkan bibit unggul untuk keberlangsungan bercocok tanam, Gubernur Papua Selatan justru menerima karangan bunga dalam jumlah yang signifikan dari berbagai pihak. Kontras yang tajam ini menimbulkan pertanyaan besar di benak masyarakat mengenai skala prioritas dan sejauh mana perhatian pemerintah daerah tertuju pada sektor agraria yang notabene merupakan tulang punggung utama kehidupan mayoritas masyarakat Papua Selatan.
Keresahan mendalam para petani di berbagai wilayah subur namun terpencil di Papua Selatan semakin meningkat dari waktu ke waktu akibat ketiadaan atau keterbatasan akses terhadap bibit berkualitas yang menjadi modal utama dalam bertani. Kondisi yang memprihatinkan ini secara langsung menghambat produktivitas pertanian, mengancam ketahanan pangan tingkat lokal, dan berpotensi memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada hasil bumi dan bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama. Para petani sangat mengharapkan adanya intervensi nyata dan solusi konkret dari pemerintah daerah dalam hal penyediaan bibit yang terjangkau secara ekonomi dan memiliki kualitas unggul.
Namun, di tengah kesulitan hidup dan harapan yang pupus yang dirasakan para petani, potret yang sangat berbeda justru terlihat di lingkungan kantor gubernur yang megah. Kiriman karangan bunga ucapan selamat atas berbagai pencapaian atau sekadar bentuk dukungan terus berdatangan silih berganti, memenuhi area kantor dengan warna-warni dan aroma bunga.
Pemandangan yang lazim sebagai bentuk apresiasi ini, meskipun memiliki nilai simbolis tersendiri, terasa kurang relevan dan bahkan menyakitkan hati bagi para petani yang sedang berjuang keras dengan keterbatasan sumber daya vital untuk bertani.
Kondisi ironis di Papua Selatan ini memicu berbagai reaksi kritis dan keprihatinan mendalam dari berbagai elemen masyarakat dan pengamat kebijakan publik. Banyak pihak yang menyayangkan kurangnya kepekaan dan fokus pemerintah daerah terhadap permasalahan mendasar yang sedang dihadapi oleh para petani sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Mereka menilai bahwa, alih-alih larut dalam euforia menerima karangan bunga, akan jauh lebih bermanfaat dan berdampak positif jika pemerintah daerah memberikan perhatian yang lebih serius dan tindakan nyata dalam penyediaan bibit berkualitas, pupuk yang terjangkau, serta pembangunan infrastruktur pertanian yang memadai untuk mendukung aktivitas bercocok tanam.
