Suara tabuhan kendang tradisional yang ritmis dan dalam menandai dimulainya ritual yang paling dinanti di pedalaman Papua, yakni Pesta Ulat Sagu yang merupakan perayaan rasa syukur suku Asmat atas kemurahan alam rawa yang menghidupi mereka. Pesta adat ini bukan sekadar acara makan besar, melainkan sebuah upacara sakral yang melibatkan seluruh anggota klan untuk menghormati roh nenek moyang dan mempererat ikatan persaudaraan. Di balik kegembiraan dan tarian yang enerjik, pesta ini menyimpan nilai filosofis tentang bagaimana pohon sagu dipandang sebagai simbol ibu yang memberikan kehidupan dan perlindungan bagi masyarakat Asmat sejak zaman purba.
Persiapan untuk Pesta Ulat Sagu dimulai berminggu-minggu sebelumnya, di mana kaum pria akan menebang beberapa pohon sagu dan membiarkan batangnya membusuk di lantai hutan rawa untuk menjadi sarang kumbang sagu bertelur. Setelah larva atau ulat sagu tumbuh besar dan gemuk, barulah proses pemanenan dilakukan secara massal. Ulat-ulat yang berwarna putih krem dan kaya akan protein ini dipanen dengan penuh suka cita, kemudian dikumpulkan di dalam wadah yang terbuat dari pelepah sagu.
Puncak kemeriahan Pesta Ulat Sagu terjadi di rumah adat Jew, di mana dentuman Tifa (kendang khas Papua) bergema tanpa henti mengiringi nyanyian pujian terhadap alam. Seluruh warga desa akan mengenakan hiasan kepala dari bulu burung cendrawasih dan lukisan wajah dari tanah liat putih serta arang hitam. Ulat sagu yang telah dipanen diolah dengan berbagai cara, mulai dari dimakan mentah-mentah untuk merasakan sensasi rasa gurih yang lumer di mulut, hingga dibakar menggunakan bambu di atas bara api.
Selain aspek kuliner, Pesta Ulat Sagu juga menjadi ajang bagi para pengukir Asmat untuk memamerkan karya terbaru mereka. Ukiran-ukiran kayu yang rumit dengan motif manusia dan hewan sering kali dibuat khusus untuk memperingati peristiwa pesta tersebut. Upacara ini juga menjadi momen penting untuk melakukan rekonsiliasi jika terjadi perselisihan antarwarga, karena makan ulat sagu bersama-sama dianggap sebagai simbol penyatuan kembali jiwa-jiwa yang sempat terpisah. Dalam pandangan suku Asmat, hutan rawa adalah pasar yang disediakan oleh leluhur, dan pesta ini adalah cara mereka membayar “pajak syukur” agar pohon-pohon sagu di masa depan tetap menghasilkan ulat yang melimpah.
