Indonesia dan Belanda memiliki kesamaan geografis, yaitu sama-sama negara yang rentan terhadap air. Namun, Belanda berhasil mengubah tantangan ini menjadi keunggulan, menjadi ahli dalam manajemen air. Mungkinkah Indonesia bisa belajar dari Belanda dan menerapkan strategi serupa untuk mengatasi banjir dan rob? Jawabannya adalah, ya. Tentu dengan penyesuaian yang relevan.
Belanda telah mengembangkan sistem tanggul, polder, dan bendungan yang canggih selama berabad-abad. Mereka tidak hanya melawan air, tetapi hidup berdampingan dengannya. Prinsip utama mereka adalah “hidup bersama air”, bukan “melawan air”. Ini adalah pelajaran berharga yang bisa kita belajar dari Belanda. Pendekatan ini berfokus pada adaptasi.
Salah satu kunci sukses Belanda adalah perencanaan tata ruang yang terintegrasi. Mereka membangun kota dan infrastruktur dengan mempertimbangkan aliran air. Di Indonesia, perencanaan tata ruang sering kali mengabaikan aspek ini. Alih fungsi lahan, terutama di area resapan, memperburuk masalah banjir. Ini adalah area krusial di mana kita bisa belajar dari Belanda.
Belanda juga sangat fokus pada teknologi. Mereka menggunakan data real-time, sensor, dan sistem peringatan dini untuk memantau ketinggian air. Inovasi seperti Room for the River memungkinkan sungai meluap secara aman tanpa merusak permukiman. Teknologi ini bisa diterapkan di Indonesia.
Namun, tidak semua strategi Belanda bisa langsung diadopsi. Karakteristik geografis dan sosial Indonesia berbeda. Oleh karena itu, kita harus belajar dari Belanda dengan adaptasi. Misalnya, kita bisa menggabungkan teknologi modern mereka dengan kearifan lokal, seperti konsep tampung-resap-alir yang sudah ada.
Pemerintah Indonesia telah mulai mengambil langkah-langkah. Proyek-proyek seperti pembangunan tanggul laut di Jakarta dan normalisasi sungai adalah bukti keseriusan. Namun, dibutuhkan komitmen yang lebih besar dari semua pihak.
Mengatasi masalah air di Indonesia membutuhkan kolaborasi. Pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat harus bekerja sama. Pemerintah harus membuat kebijakan yang pro-lingkungan, dan masyarakat harus sadar akan pentingnya menjaga kebersihan sungai.
Pada akhirnya, belajar dari Belanda bukanlah tentang meniru mentah-mentah, melainkan mengambil inspirasi dan mengadaptasi. Dengan semangat yang sama, kita bisa mengubah ancaman air menjadi peluang.
